Kerusuhan Mei 1998 dan Tragedi Trisakti

sumber: https://kabar24.bisnis.com/read/20200522/15/1243592/foto-foto-peristiwa-mei-1998
 

    Kerusuhan Mei merupakan salah satu peristiwa yang cukup terkenal dalam sejarah Indonesia. Diawali oleh krisis finansial Asia dan dipicu oleh tragedi Trisakti, kerusuhan Mei 98 adalah kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa yang terjadi khususnya di Ibu Kota Jakarta pada 13 Mei sampai 15 Mei 1998. Kerusuhan ini pula yang memicu turunnya jabatan Presiden Sooeharto serta dilantiknya B.J. Habibie sebagai presiden dan memulai era reformasi.

    Kerusuhan Mei 98 dimulai dengan krisis moneter di Asia yang menyebabkan krisis multisektor di Indonesia, dimana harga bahan pokok mahal dan langka, bertambahnya pengangguran, angka kemiskinan yang tinggi, juga inflasi. Selain itu, banyak juga perubahaan yang bangkrut, orang yang dipecat, dan berhentinya berbagai proyek besar. Di tengah krisis tersebut, Presiden Soeharto terpilih kembali menjadi Presiden RI. Namun kemudian goyah karena mengundang kemarahan masyarakat. Rakyat kemudian menuntut keadilan dan menuntut lengsernya Presiden Soeharto.

    Dikarenakan kemarahan, rakyat menunjukkan kekecewaannya dengan melakukan perusakan, penjarahan, dan kekerasan serta pelecehan seksual. Dalam kerusuhan ini, tidak sedikit korban yang berasal dari etnis Tionghoa. Pada masa itu, etnis Tionghoa dianggap mendominasi perekonomian dan menimbun bahan pokok pada saat krisis. Selain itu, juga terdapat bentuk aksi rasisme dan diskriminasi gender yang disebabkan sentimen anti-Tionghoa.  

    Sementara itu, pada 12 Mei 1998, para mahasiswa Universitas Trisakti melakukan aksi unjuk rasa mereka pada MPR dan DPR. Namun, setelah dihadang polisi, para mahasiswa tersebut sepakat untuk melakukan aksi damai dan tidak melanjutkan aksi unjuk rasa mereka. Pada saat itu situasi masih tergolong tenang, tanpa kerusuhan. Setelah polisi meminta mahasiswa kembali ke dalam kampus, terdengar suara tembakan dan para mahasiswa lantas berusaha menyelamatkan diri dengan masuk ke dalam gedung-gedung kampus. Saat itu puluhan gas air mata juga dilemparkan ke dalam kampus dan beberapa korban jiwa berjatuhan, termasuk 4 mahasiswa Trisakti. Dengan begitu, kemarahan masyarakat yang saat itu sudah terbebani krisis ekonomi semakin menjadi-jadi.

    Pada tanggal 13 Mei 1998, dilakukan jumpa pers yang dihadiri oleh Pangdam Jaya Mayjen TNI Sjafrie Sjamsoeddin di Mapolda Matro Jaya. Lalu berbagai mahasiswa dari berbagai kota juga datang untuk menyatakan belasungkawa atas tewasnya keempat mahasiswa universitas Trisakti. Setelah itu barulah Mulai kerusuhan di Jakarta yang berupa aksi perusakan dan pembakaran bangunan. Kerusuhan ini memburuk pada tanggal 14 Mei 1998 karena sudah menyebar ke kota-kota lain seperti Bogor, Tangerang, dan Bekasi.

    Presiden Soeharto, yang ketika itu berasa di Kairo, mengetahui adanya kerusuhan tersebut dan bergegas kembali ke Indonesia. Isu mengenai Presiden bersedia mundur dari jabatannya pun bermunculan. Namun, karena kepercayaan masyarakat terhadap Presiden sudah hilang, maka Presiden Soeharto bersedia untuk menyerahkan jabatannya kepada B.J. Habibie pada tanggal 21 Mei 1998.

    Peristiwa kerusuhan Mei 1998 tentu memiliki dampak besar bagi Indonesia. Kerusuhan  ini merupakan salah satu bentuk protes masyarakat terhadap pemerintah dan menjadi salah satu peristiwa bersejarah yang menjadi akhir dari masa orde baru dan membawa Indonesia memasuki era reformasi.

 


Kelompok 8 

Nico (24), Cetta (08), janet (16) ,Tarisha (32)

Sumber :

·       https://www.kompas.com/stori/read/2023/05/12/230000379/berapa-korban-kerusuhan-mei-1998?page=all#:~:text=Beberapa%20alasan%20mengapa%20etnis%20Tionghoa,kebijakan%20asimilasi%20terhadap%20etnis%20Tionghoa

·       https://www.kompas.com/stori/read/2021/11/15/150000579/kronologi-kerusuhan-mei-1998?page=all

Komentar